Nope, ini bukan sekuel dari Film Radit & Jani yang cukup heboh itu..
ini juga bukan skuel dari mengejar matahari..Apalagi 9 naga..
Walaupun sebenarnya bisa dibilang film ini mempunyai unsur2 dari 3 film tersebut..
Pertama, sutradara sekaligus sang penulis adalah Upi Avianto, sutradara film Radit dan Jani
Kedua, mengisahkan tentang persahabatan 5 orang, yang mirip dengan cerita mengejar matahari..
Dan ketiga, bertemakan film mafia/gangster indonesia..yang dulu pernah ada dalam film 9 naga..
Apa jadinya kalo 3 film diatas digabungkan? hasilnya yaa, setengah – setengah, menjanjikan tapi biasa saja..
Ide ceritanya sangat menjanjikan, yaitu tentang lima sekawan yang kerjaannya hanya membuat onar di kampung mereka, namun pada akhirnya harus menerima akibatnya saat Jarot (Vino) tanpa sengaja membunuh seseorang yang akan menusuk temannya, Ale (Fathir Muchtar), dan membuat Jarot harus masuk penjara. Sekeluarnya dari penjara, Jarot direkrut menjadi anggota dari mafia peredaran narkoba yang bernama Naga Hitam,disini, Jarot harus berjuang menjadi anggota yang disegani, serta harus menghadapi sahabat2nya yang mendirikan grup yang menjadi musuh Naga Hitam. sayang, ide cerita yang cukup bagus ini pada akhirnya menjadi alur khas indonesia yang bertele – tele.
Dialog film ini juga cukup aneh, terlalu baku malah (tapi tidak separah dialog merah putih) untuk ukuran film gangster, hanya mengandalkan kata2 umpatan, tapi sering kalimatnya seperti tidak layak diucapkan oleh orang yang berlatar preman, yang notabenenya tidak berpendidikan (no offense!)
Adegan di film ini terkadang terlalu cepat, tapi ada juga yang sepertinya bertele tele, bila menonton film ini, penonton yang jeli pasti akan timbul pertanyaan, ‘loh, ko si jarot langsung bisa dipercaya sama bos aja? jasa dia apaan emang? perasaan disuruh bunuh orang aja ga mau..yap, sama seperti 9 naga yang terlalu mendayu – dayu, serigala terakhir pun juga terlalu mengandalkan drama..terlalu banyak kisah yang harus diceritakan, sehingga durasi film jadi membengkak jadi 110 menit, dan kebanyakan hanya berupa adegan orang yang marah atau sedih karena suatu hal. Apabila bermaksud untuk mengeluarkan bakat akting, sepertinya hanya pemeran fatir (Reza Pahlevi) yang patut diacungi jempol..aktingnya sebagai seorang bisu berkarakter gelap sangat meyakinkan dibanding akting Vino.
Serigala Terakhir juga sepertinya sangat terpengaruh film2 gangster Hongkong, dan Jepang jaman Andy Lau dulu..mulai dari gaya baju sampai setting tempat. Aga disayangkan kenapa tidak mengambil style indonesia saja..atau mungkin memang seperti itu gambaran mafia indonesia? saya juga kurang tahu..
Yang paling aneh adalah sound effect yang digunakan, khususnya untuk suara tembakan, mungkin hanya saya saja, tapi kok kayanya suara tembakannya one step back from Merah Putih ya?
Diluar dari semua hal diatas, cukup banyak kok yang bisa diacungi jempol..seperti gaya pengambilan gambar yang cukup epik, pemilihan setting tempat yang lumayan masuk dengan tema film (walaupun jadi mirip sama mafia hongkong..)terus apa ya? hahaha..ternyata tidak sebanyak itu juga yang bisa diacungi jempol..namun yang jelas, film ini menambah perbendaharaan genre film indonesia biar ga cuma cintaaaaa melulu..
Since it’s indonesian movie..gada salahnya lho ditonton! film ini ga seburuk kualitas film cinta2an ga jelas ato horror campur porno a la Jupe / DP kok..
rating : 3 out of 5 *
sumber : note fb si daniel
emank film’a uda dirilis kk?
emng mantap nih serigala….
penulis skrip indonesia kebiasaan sih bikin skrip buat siinetron jadi ke film jg akhirnya sama saja. sudah itu unsur yg di gali setengah2x lagi. ga niat gitu bikin film.
iya juga sih.. tapi ada juga yang serius seperti merah putih tapi ga poll juga hasilnya..
ok bangeeeeeeeeeeeeetttttttttt……