Posted by (0) Comment

Dari saya masih kecil, hiburan dengan berlatar belakang mitos dewa – dewa yunani udah sangat akrab di telinga saya. Serial televisi Xena dan Hercules masih sangat terbayang di otak saya, dan mungkin dua serial itulah yang membuat saya tertarik dengan cerita mitologi yunani, thanks to them to, saya jadi tau siapa itu poseidon, zeus, ares, hades, athena dan berbagai dewa yunani lainnya. Hollywood pun nampaknya sangat senang dengan film yang mengambil kisah mitologi2 yunani, dan yang paling teranyarnya adalah Clash of the Titans. Judul yang sebenarnya aga misleading, karena yang benar2 clash disini adalah para dewa olympians, bukan para Titans yang notabenenya adalah generasi dewa terkuat yang ironisnya dilengserkan oleh generasi baru yang bernama the olympians -yep so ironic! tapi di film ini nanti diijelaskan kenapa berjudul clash of the titans.
Clash of the Titans menceritakan seorang manusia setengah dewa bernama Perseus, dikisahkan kalo Perseus adalah anak dari Zeus -sedangkan aslinya Perseus adalah anak dari Poseidon, but let’s forget bout it now. Perseus dibuang saat dirinya masih bayi bersama dengan ibunya. Seorang nelayan yang menemukan Perseus akhirnya mengklaim Perseus sebagai anaknya. Setelah dewasa, Keluarga angkat Perseus yang sedang berusaha mencari ikan di laut ini sedihnya harus mati di tangan Hades, kejadian ini membuat Perseus dendam dengan para dewa olympians yang dinilainya tidak adil pada manusia. Ia lalu bergabung dengan kerajaan argos untuk membalas perlakuan dewa yunani itu. Namun para dewa sendiri juga punya rencana, Hades lalu datang bertemu Raja Acrisius dan mengancam akan menghancurkan kerajaan argos dengan kraken bila argos tidak mengorbankan andromeda, putri raja acrisius. Kejadian ini membuat niat acrisius dan perseus berubah jadi menyelamatkan kota argos dari mahkluk Kraken -FYI, Kraken adalah mahkluk buatan Hades yang menghancurkan para dewa Titans dan menolong olympians menjadi dewa berikutnya, imagine how danger the kraken is? Perseus dan segerombolan manusia mirip pasukan dari film 300 itu lalu pergi untuk mencari cara untuk mengalahkan kraken.
Film ini sebenarnya sudah sangat mempunyai amunisi yang cukup untuk menjadi film sukses..Remake dari film yang cukup fenomenal pada tahun 80 an ini dilengkapi dengan jajaran aktor dan aktris yang ga kalah wah juga..mulai dari sam worthington, Liam Leeson, Ralph Fiennes,sampai si cantik Gemma Arterton. Konflik yang terjadi pun cukup banyak sebenarnya, mulai dari perseus yang ingin balas dendam pada dewa, manusia yang sudah muak terhadap perlakuan para dewa yang sering tidak adil, hades yang ingin melengserkan zeus dari kedudukan tertinggi olympians, sampai ke penduduk argos yang ketakutan akan ancaman hades sehingga berencana menculik andromeda dan mengorbankannya sendiri, namun entah kenapa film ini kurang memenuhi ekspektasi saya di segala bidang, seru sebenarnya, tapi terasa kurang. Akting yang diperlihatkan juga tidak terasa spesial, mulai sam hingga aktor senior liam leeson juga tidak terasa istimewa. Konflik yang disajikan pun terasa sangat singkat, padahal bisa menjadi kunci menarikna film ini. untunglah spesial efek yang disajikan sangat megah sehingga cukup menutupi faktor lain film ini.
continue
Posted by (0) Comment
kemarin disuruh bikin pengontrol temperature untuk kalibrator sensor suhu.. ini hasilnya.

Posted by (0) Comment
Posted by (0) Comment
Where’s Wally? adalah serangkaian buku anak-anak yang dibuat oleh ilustrator Inggris Martin Handford.
Buku-buku terdiri dari serangkaian dua halaman rinci menyebar ilustrasi yang menggambarkan lusinan atau lebih orang yang melakukan berbagai hal-hal yang lucu pada lokasi tertentu. Pembaca ditantang untuk mencari karakter yang bernama Wally tersembunyi dalam kelompok. Wally’s khas merah dan kemeja bergaris-garis putih, berbandul topi, dan kacamata membuat dia sedikit lebih mudah untuk mengenali, tapi banyak ilustrasi berisi “herring merah” menipu melibatkan penggunaan merah-putih bergaris-garis objek. Kemudian entri dalam buku berjalan lama seri menambahkan target tambahan bagi pembaca untuk menemukan dalam setiap ilustrasi.
Buku pertama dalam seri ini, awalnya berjudul Where’s Wally?, Diterbitkan pada tahun 1987. Buku-buku menjadi sangat populer dan lokal untuk berbagai wilayah, termasuk nama-perubahan untuk Wally. Waralaba juga melahirkan media lain dalam alur cerita yang lebih berbasis bentuk, termasuk serial TV, komik dan serangkaian permainan video.
Sebagai dewasa muda, Handford ilustrasi orang banyak dan adegan komik lainnya untuk klien. Pada tahun 1986 ia mendekati untuk menciptakan sebuah buku tentang karya seni. Untuk mengikat setiap adegan bersama dia datang dengan ide untuk memasukkan wisatawan berbeda ke setiap adegan bagi pembaca untuk menemukan. Untuk awal pelepasan Inggris pada tahun 1987 bukunya yang berjudul dia karakter “Wally”.
Where’s wally? merek dagang ini diadaptasi untuk 28 negara. Karakter tituler pembaca ditantang untuk mencari diperoleh nama yang berbeda di sebagian besar versi lokal. Ia menjadi Waldo di Amerika Serikat, Charlie di Perancis, Walter di Jerman, Holger di denmark, Willy di Norwegia, dan Effy di Israel.
Versi Amerika ini cukup populer untuk menjadi lisensi utama selama tahun 1990-an. Terlepas dari Handford adaptasi dari buku, Amerika Serikat melihat pelepasan Waldo video game, spin-off buku-buku, majalah, boneka, mainan dan sebuah serial televisi Waldo. Banyak produk Waldo kemudian dikerjakan ulang dan diterjemahkan untuk pasar nasional lainnya – termasuk mengubah “Waldo”-menciptakan produksi kembali ke “Wally” bagi Inggris.
Tim Burton adalah sutradara yang terkenal dengan ‘keunikannya’ dalam menyutradarai film. Hampir setiap film yang ia buat selalu terlihat gelap, menyeramkan, aneh, tapi juga unik dan lucu. Beberapa filmnya yang mungkin dapat dijadikan bukti adalah Beetlejuice, Edward Scissorhand, Sleepy Hollow, Corpse Bride, Charlie and the Chocolate Factory, dan Sweeney Todd. Semua film diatas menyajikan kisah dan karakter yang lain daripada yang lain. Tim Burton juga sepertinya sangat menyenangi Johnny depp dan helena bonham carter sebagai pilihan untuk karakter utamanya. Dari judul diatas, hampir semuanya terdapat Johnny depp sebagai karakter utama atau supporting actor, begitupun Helena bonham carter. Dan Tim Burton sepertinya tidak membuat pengecualian untuk filmnya yang sekarang, Alice in Wonderland.
Fairy tale yang sangat sering dibuat ulang oleh para sineas Hollywood ini akhirnya diremake juga oleh Tim Burton. Film ini menceritakan tentang kembalinya Alice(Anna Wasikowska) ke Underland -yang ia sebut sebagai Wonderland, untuk kedua kalinya. Alice yang kini berumur 17 tahun dikisahkan akan dijodohkan dengan seorang pria keturunan bangsawan, namun alice tidak ingin dikekang oleh pernikahan, ia sangat terinspirasi oleh ayahnya yang mempunyai pikiran yang luas tentang bisnis yang digelutinya -FYI, beberapa kali Indonesia disebutkan disini, kinda meks us proud, huh?. Saat Alice sedang dilamar oleh sang bangsawan di depan para tamu, alice justru lebih tertarik dengan kelinci berjaket yang ia lihat berkeliaran di sekitarnya. Alice pun lalu mengikutinya hingga terjatuh di lubang yang dalam. Setelah sadar, ia mendapati dirinya sednang berada di suatu dunia aneh seperti dalam mimpi. Dunia itu dikuasai oleh Red Queen yang jahat. Alice pun bertemu dengan beberapa mahkluk penghuni dunia ini, berharap alice dapat menyelamatkan mereka dari kekejaman Red queen. Mereka pun mencoba mengantarkan Alice ke White Queen, adik dari Red Queen. Namun timbul ketegangan karena beberapa mahkluk tidak percaya alice adalah alice yang sama yang pernah datang ke tempat ini. Dari sinilah film mulai berkembang dan bertemu dengan banyak karakter menarik lainnya.
Kehebatan Tim Burton dalam membuat suatu karakter yang unik kembali terbukti disini, semua karakter digambarkan dengan sangat unik, aneh dan lucu. Ada The Tweedles (Matt Lucas) yang berupa dua bocah kembar bernama Tweedledes dan Tweedledums yang bertubuh bulat lingkaran dan cerewet, ada pula cheesire cat (stephen fry), seekor kucing bulat yang bisa menghilang menjadi asap dan tersenyum dengan lebar serta bermata bulat, dipastikan siapapun pasti akan ingin punya kucing sperti cheesire cat. Tokoh manusianya pun digambarkan dengan unik a la tim burton, Johnny depp berperan sebagai Mad Hatter, Helena Bonham Carter sebagai Red Queen, dan Anne Hathaway sebagai White Queen.
Semua orang punya filosofi sendiri bila menyangkut jalan hidup mereka masing – masing. Seiring kita bertambah dewasa dan mulai terbuka dengan pandangan dan pemikiran baru, kita semakin mempunyai wawasan luas dan keinginan untuk menjalani kehidupan kita sendiri. Setidaknya itulah yang dikatakan sepanjang film ini.
Ryan bingham (George Clooney) adalah seseorang yang menamakan dirinya ‘Termination Facilitator’. Saat sebuah perusahaan ingin melakukan pemotongan pegawai dan tidak berani memecat para pegawainya, perusahaan itu meminta perusahaan lain untuk membantu menyelesaikannya, lalu perusahaan lain ini akan mengutus seseorang untuk menyelesaikannya, Ryan Bingham lah orangnya. Dia bepergian menggunakan pesawat terbang, duduk di kelas eksekutif, dan tinggal di hotel mewah di tiap kota yg ia kunjungi, dan saat tiba waktunya mengerjakan tugasnya, dengan profesional dan berbekal pengalamannya, ia selalu menyelesaikan tugas nya dengan baik, tidak peduli berbagai macam respon yang didapat. Selain itu ia juga menjadi pembicara untuk motivasi hidup dan menghadapi komitmen dengan filosofis backpack nya. Alex, (Vera Farmiga) seorang wanita yang sering bepergian juga, dan terlibat semacam hubungan open relationship dengan Ryan Bingham. Natalie Keener(Anna Kendrik), seorang wanita muda yang ambisius dan fresh graduate, menerima pekerjaan di perusahaan tempat Ryan bekerja karena dekat dengan tempat kerja pasangannya. Kedua wanita ini nantinya akan memberikan sebuah pelajaran berharga tentang filosofis yang selama ini ia pahami.
Film yang tadinya saya pikir akan berpotensi bikin ngantuk layaknya film ‘Michael Clayton, There will be blood, No country for old men dsb dst’ ternyata berjalan dengan sangat menarik dari awal. Dengan sedikit suguhan komedi satir dan sarkas, menjadikan setiap adegan berjalan dengan baik dan apa yang sang sutradara ingin berikan ke kita, dapat kita tangkap dengan jelas. Suasana film ini sepertinya ingin menggambarkan keadaan ekonomi dunia (amerika khususnya) yang sedang ambruk ditimpa krisis global, namun tetap berjalan apa adanya, semakin memperlihatkan bahwa hanya orang – orang yang berprinsip saja yang dapat melewati hidup dengan baik. George Clooney bermain dengan sangat rapih seolah itu adalah dirinya di kisah nyata, Vera Farmiga juga bermain dengan sangat charming dan manis -namun berubah menjadi tega dan dingin saat filosofisnya terganggu, Anna Kendrik sebagai Wanita yang masih ‘butuh’ pengalaman juga bermain dengan unik, dia mampu mewakilkan generasi muda sekarang yang tidak kalah dengan generasi sebelumnya meskipun masih butuh pengalaman dan pandangan hidup.